FKIP UNPAS pilihan pasti setiap generasi

Perubahan Format UN 2017


BERITA Nasional | 31 Jan 2017

Perubahan Format UN 2017


Kemendikbud melakukan perubahan signifikan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN) 2017. Khusus untuk jenjang SMA, siswa dibebaskan memilih mata pelajaran (mapel) yang akan diujikan sesuai keinginannya.

Pada UN sebelumnya, siswa SMA menghadapi enam mapel yang ditetapkan Kemendikbud. Mata pelajaran utama yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Tiga mata pelajaran lainnya sesuai dengan penjurusan masing-masing.

Siswa jurusan IPA menggarap Kimia, Biologi, dan Fisika. Siswa IPS mengerjakan Geografi, Sosiologi, dan Ekonomi. Sedangkan jurusan bahasa menghadapi bahasa dan sastra Indonesia, Antropologi, dan bahasa asing.

Namun pada UN 2017 nanti, mapel yang diujikan hanya empat. Yakni, tiga mata pelajaran utama (bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris) plus satu mapel yang dipilih siswa sendiri. Misalnya, siswa jurusan IPA memilih Biologi. Maka, dia tidak mengerjakan Fisika dan Kimia saat UN.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud Nizam mengatakan, aturan itu untuk memenuhi rasa keadilan. “Siswa silahkan memilih mata pelajaran sesuai yang disukai,” katanya kemarin.

Mulai saat ini siswa  bisa mendaftar ke sekolah masing-masing untuk memilih mapel UN. Sekolah yang mengerjakan unas dengan kertas, pilihannya harus seragam. Sedangkan sekolah yang UN-nya menggunakan komputer, pilihan mapelnya bisa bebas.

Guru Besar bidang anak berbakat Rochmat Wahab menilai kebijakan Kemendikbud itu blunder. Menurutnya, UN harus mengukur kemampuan anak sesuai penjurusan secara utuh. “Anak IPA ya diuji semua mata pelajarannya. Begitupula anak IPS maupun anak jurusan bahasa. Harus komplit,” katanya.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu mencontohkan, ketika ada anak IPA memilih ujian Biologi, kemudian nilai totalnya bagus, tidak bisa dinyatakan anak itu bagus. Sebab, belum tentu nilai Kimia dan Fisika-nya sebagus Biologi. Evaluasi siswa sesuai penjurusannya itu harus satu kesatuan secara utuh.

Rochmat menilai Kemendikbud cenderung mengakomodir masukan dari kanan-kiri dan mengabaikan kepentingan siswa. Dia tidak sepakat jika hanya satu mapel sesuai penjurusan yang diujikan di UN.

Menurutnya, ketika usulan moratorium UN ditolak, Kemendikbud menjalankan UN yang sudah ada selama ini. Tidak perlu mengotak-atik formatnya. Sebab, format UN sudah cukup baik. Yang perlu dilakukan adalah menekan kecurangan. (wan/ca/jpgrup)