FKIP UNPAS pilihan pasti setiap generasi

Home

Sejarah

1. Jati Diri

Seiring dengan kebutuhan masyarakat akan guru matematika, maka Program Studi  (PS) Pendidikan Matematika  berdiri pada tahun 1985, didirikan oleh beberapa orang Dosen Pendidikan Matematika dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (IKIP, sekarang Universitas Pendidikan Indonesia, UPI). Sebenarnya pendirian Prodi Pendidikan Matematika sudah ada sejak tahun 1982, sebagai masa persiapan. Namun karena Surat Keputusan pendirian baru dimiliki sejak tahun 1985, maka secara definitif Prodi pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpas baru deikatakan sah setelah SK itu, dengan SK No.01/2710/1985 tanggal 5  Oktober 1985, yang ditandatangani oleh Soetanto Wirjoatmanto (Sekjen Depdikbud).

Pendirian Prodi Pendidikan Matematika berdiri berdasarkan kebutuhan tenaga pendidik  matematika untuk kebutuhan SMP, SMA, SMK, MTs, MA, maupun untuk kebutuhan tenaga kependidikan tinggi. PS Pendidikan Matematika selalu terbuka dan peduli terhadap kepentingan masyarakat yang ingin melanjutkan kuliah baik kelas reguler ataupun kelas khusus. Selama 29 tahun berdirinya PS Pendidikan Matematika mengalami perkembangan yang pesat baik dari jumlah mahasiswa ataupun lulusan PS Pendidikan Matematika. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unpas telah meluluskan alumninya sekitar 1700an orang, yang tersebar di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jogjakarta, Sumatra, Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi, dll.

Evaluasi diri terus dilakukan dengan mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi yang terkait, mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi dosen serta memperhatikan kebutuhan pasar kerja melalui revisi kurikulum berbasis kompetensi. PS Pendidikan Matematika selalu terbuka dan peduli terhadap kepentingan masyarakat terutama guru-guru, ini dibuktikan dengan dibukanya kelas khusus bagi guru-guru yang ingin melanjutkan kuliah di samping kelas reguler. Selama 29 tahun berdirinya PS Pendidikan Matematika mengalami perkembangan yang pesat baik dari jumlah mahasiswa ataupun lulusan PS Pendidikan Matematika.

Berikut ini akan dipaparkan secara kronologis berdasarkan dekade mulai dari tahun-tahun awal pendirian sebagai masa persiapan sampai sekarang ini.

2. Masa Dekade Pertama (1985-1994)

Dekade pertama ini merupakan rintisan awal, dengan mahasiswa yang masih harap-harap cemas, walaupun penuh dengan optimisme. Pada saat itu mahasiswanya masih belasan, terutama angkatan pertama. Angkatan pertama yang menjadi mahasiswa pertama yang meneratas jalan untuk generasi berikutnya. Angkatan-angkatan pertama (1982-1988) ini masih menggunakan kampus yang ada di jalan Cihampelas. Kampus masih menumpang di sekolah yang dimiliki yayasan pendidikan Pasundan, yang sekarang ditempati oleh SMA Pasundan 2 dan 8 Bandung. Kuliah dilaksanakan pada sore sampai malam hari. Konon katanya, terkadang listrik padam yang penuh dengan cerita dan nostalgia dalam kepadaman lstrik tersebut, tapi tidak menyurutkan mahasiswa untuk terus belajar.

Dosen yang mengajar pada mahasiswa angkatan pertama ini masih didominasi oleh dosen-dosen dari IKIP (UPI sekarang). Sesepuh dosen yang membidani berdirinya Prodi Pendidikan Matematika adalah Bapak Drs. H. Endi Nurgana, yang menjadi ketua Jurusan/Prodi Pendidikan Matematika yang pertama. Dosen-dosen Matematika lain di antaranya adalah Drs. H. Maman Suherman, M.Si, Prof. E.T. Ruseffendi, Ph.D., Prof. Dr. H. Wahyudin, M.Pd., Prof. Dr. H. Darhim, Dr. Endang Mulyana, M.Pd., Drs. Endang Dedy, Drs. Heri Sutarno, M.T., Drs. Firdaus, M.Pd., Drs. M. Rahmat, Prof. Yozua Sabandar, M.A. Ph.D., Drs. Ame Rasmedi, Dr. Karso, M.Pd., Drs. H. Erman Suherman, M.Pd., Dr. Tatang Mulyana, M.Pd., dan lain-lain. Kesemua dosen tersebut pata tahun-tahun awal masih bergelar S1, kecuali Pak Ruseffendi dan Pak Yozua. Dosen-dosen lainnya yang non matematika adalah dosen FKIP pada umumnya, termasuk Bapak Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si (Rektor Unpas periode 2004-2012), Dr. H. Dadang Iskandar, M.Pd., dan lain-lain.

Kurikulum pada dekade pertama masih menggunakan Kurikulum yang diadopsi dari Jurusan Pendidikan Matematika IKIP sebagai Perguruan Tinggi pembina. Pada awal dekade pertama karena status jurusan pendidikan Matematika masih terdaftar, maka jurusan Pendidikan Matematika FKIP masih belum bisa mandiri baik mengenai kurikulumnya ataupun penyelenggaraan ujiannya. Dekade ini mengalami dua status jurusan, yaitu status terdaftar pada awalnya dan diakui menjelang tahun 1990-an. Hanya status akreditasi disamakan yang dapat menyelenggarakan kurikulum dan ujian secara mandiri atau otonomi. Pada saat itu untuk mencari jurusan di perguruan tinggi swasta yang berstatus disamakan sangat sulit. Semua jurusan yang ada di FKIP Unpas pada dekade ini tidak ada yang disamakan, paling tinggi hanya diakui.

Status akreditasi terdaftar dan diakui merupakan status akreditasi jurusan yang sangat sulit, terutama bagi mahasiswa. Karena disamping kurikulum yang tidak boleh mandiri, juga pelaksanaan ujian yang memerlukan dua kali tahapan ujian, yaitu ujian yang diselengarakan oleh jurusan Pendidikan Matematika FKIP secara lokal, yang disebut ujian lokal, dan ujian yang diselenggarakan oleh jurusan pembina, yang dikoordinasikan oleh Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan Banten (saat itu masih Jabar), yang disebut ujian negara. Ujian negara diselenggarakan di FKIP dengan pengawas nasional, dan ujian sidang di IKIP Bandung, yang merupakan gabungan ujian negara se-Jabar.

Pada saat ujian lisan berkumpul peserta ujian dari berbagai perguruan tinggi dengan jurusan sejenis se-Jabar di IKIP Bandung. Ada baiknya juga sebetulnya, karena bisa berlomba secara sehat dan mengukur berapa persen dari peserta ujian yang bisa lulus. Istilah tidak lulus merupakan momok tersendiri, karena biasanya dari sekian banyak peserta yang lulus hanya sedikit saja. Salah satu penyebab ketidaklulusan adalah karena faktor penguji yang bukan merupakan dosen yang menagajar mata kuliah tertentu. Mahasiswa yang ikut ujian lisan berkumpul dari berbagai angkatan, terkadang ada angkatan yang lama yang masih belum lulus. Ada kakak angkatan yang pernah melalukan perpeloncoan ketika orientasi mahasiswa baru, ternyata ikut ujian lisan bersama-sama. Tetapi rasa malu terhadap adik kelas pada saat itu tidak jadi ganjalan. Sehingga pada saat ini untuk meraih IPK lebih dari 3,00 sangat sulit. Hanya beberapa orang saja yang memiliki IPK yang tinggi. Hanya ujian negara saja yang diakui untuk melamar kerja yang tertera dalam transkrip.

Kesulitan tersebut ketika berstatus diakui sangat membekas, sehingga memberikan semangat kepada para pendiri jurusan Pendidikan Matematika, pimpinan FKIP Unpas, dan Unpas untuk terus menerus meningkatkan akreditasinya. Salah satu kesulitan untuk meningkatkan akreditasi adalah kekurangan dosen tetap yang menjadi syarat untuk menuju ke jenjang akreditasi yang lebih tinggi lagi, yaitu disamakan. Maksud akreditasi disamakan adalah disamakan dengan negeri, karena pada saat itu masyarakat ketika menguliahkan anaknya masih berorientasi pada perguruan tinggi negeri. Sehingga apapun kualitasnya karena negeri, pemerintah tidak membedakan status terdaftar, diakui, atau yang lainnya. Itulah salah satu bentuk ketidakadilan pemerintah ketika itu, karena menyamakan semua jurusan di PTN, tidak terkecuali kualitasnya yang mungkin lebih rendah dari perguruan tinggi swasta.

Selama dekade ini keberadaan mahasiswa Prodi pendidikan Matematika tidaklah banyak, setiap angkatannya tidak pernah lebih dari satu kelas. Sekelasnya juga belasan orang mahasiswa. Yang penulis ingat yang terbanyak sekitar 35 orang, itu terjadi ketika angkatan 1987 dan 1988, sebelum dan setelah itu tidak banyak. Terutama yang sampai ujung semester akhir biasanya menyusut hampir setengahnya. Mungkin karena sifat dari matematika yang sangat sulit ditambah status akreditasi yang mensyaratkan ujian sampai dua kali, ujian lokal dan ujian negara. Sampai tahun 1994 mahasiswa tiap angkatannya masih belum menunjukkan ada tanda-tanda kenaikan, masih di bawah 30an walaupun tidak sampai kehabisan mahasiswa. Mahasiswa yang menonjol di dekade ini di masyarakat banyak, banyak yang langsung jadi pegawai negeri sipil, bahkan ada yang jadi dosen. Pada umumnya semenjak mahasiswa, jurusan ini tidak pernah menciptakan pengangguran, karena lulusannya langsung terserap jadi guru baik di negeri atau yayasan. Angkatan pertama dari Prodi ini yang langsung diangkat menjadi dosen yayasan adalah Drs. H. Ramlan, M.Sn.

Seperti yang disampaikan di awal tadi terkait dengan dosen yang mengajar di jurussn pendidikan matematika, bahwa salah satu alasan akreditasinya baru hanya sampai tertinggi diakui, maka pada tahun 1988 baru memiliki dua dosen tetap yaitu Dra. Hj. Wisma Eliyarti, M.Pd. dan Drs. H. Ramlan, M.Sn., yang lainnya masih dosen luar biasa yang didatangkan dari UPI. Dra. Hj. Wisma Eliyarti merupakan dosen yang diperbantukan oleh pemerintah yang ditempatkan di Jurusan pendidikan Matematika. Sedangkan untuk dosen yang non matematikanya dibantu oleh dosen yang dimiliki oleh FKIP Unpas, seperti Dr. H. Dadang Iskandar, Drs. H. Herman Yusuf, Drs. Atim Suparman, M.Pd., Dra. Aas Saraswati, M.Pd., dan lain-lain.

Seiring dengan perkembangan pembangunan FKIP dan Unpas secara keseluruhan, mulai tahun 1988 Program Studi Pendidikan Matematika bersama-sama dengan program studi lainnya yang ada di lingkungan FKIP Unpas telah memiliki kampus yang baru bertempat di Jalan Tamansari nomor 6. Kampus inilah yang sampai sekarang dipakai untuk kegiatan perkuliahan yang mengalami pengembangan dan perluasan yang berarti. Ruangan dan peralatan milik sendiri, tidak lagi menumpang pada tanah dan bangunan orang lain. Pengembangan demi pengembangan terus dilakukan oleh FKIP dan Prodi secara terus menerus hingga pada akhirnya meneguhkan para pimpinan prodi untuk selalu meningkatkan status akreditasinya.

Pimpinan prodi yang menjabat ketua dan sekretaris pada dekade ini adalah Bapak Drs. H. Endi Nurgana dan Bapak Drs. Maman Suherman, M.Si. (periode 1985-1987), dan Drs. Maman Suherman dan Drs. Ramlan (dua periode, yaitu 1987-1991 dan 1991-1994). Pada periode Ketua Prodi Bapak Drs. Maman Suherman. M.Si. dan Bapak Drs. Ramlan inilah yang mengajukanlah akreditasi ulang, dengan penuh kesabaran dan kesungguhan maka pada awal tahun 1994 merupakan masa yang paling banyak merubah berbagai kebijakan program studi pendidikan matematika, yaitu masa akreditasi disamakan, yang merupakan status akreditasi yang sangat didambakan oleh setiap jurusan/program studi untuk setiap perguruan tinggi di Indonesia. Lulusan yang pertama yang mendapat ijazah yang di dalamnya tertulis status akreditasi disamakan adalah penulis (Darta), di ijazah tersebut tertulis status akreditasi disamakan dengan SK Dirjen Dikti Depdikbud dengan nomor 96/Dikti/Kep/1994, tanggal 9 April 1994, dengan sebagai orang pertama yang menyandang sebutan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd). Sebelum lulussn tahun 1994, sebutan gelar kesarjanaannya masih doktorandus.

Selain pengembangan infrastruktur gedung, perlengkapan, kurikulum dan dosen yang terus dibenahi, kegiatan kemahasiswaan juga terus mengalami pengembangan. Pembentukan wadah kegiatan kemahasiswaan yang menghimpun seluruh mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika dan kegiatannya diberi nama Himatika (Himpunan Mahasiswa Matemmatika), seiring dengan pembentukan Senat Mahasiswa (sekarang Badan Eksekutif Mahasiswa) dan Badan Pertimbangan Mahasiswa (sekarang Dewan Pertimbangan Mahasiswa). Ketua Himatika yang pertama adalah Eddy Julius (1983-1986), periode kedua adalah Juhara (1987-1989), periode ketiga adalah Kadirah (1990-1992), periode keempat adalah Asep Yuslinar (1993-1994). Kegiatan mahasiswa yang paling menonjol di setiap periodenya yaitu Lomba Ngutak Ngatik Nguteuk Matematika (LN3M) yang merupakan kegiatan yang semacam cerdas cermat dalam mata pelajaran matematika untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/K) tingkat Jawa Barat, dengan memperebutkan pila bergilir Gubernur Jawa Barat, dan piala-piala tetap lainnya.

 

3. Masa Dekade Kedua (1995-2003)

Seiring dengan telah diterimanya status akreditasi Prodi Matematika disamakan pada tahun 1994, maka perubahan kurikulum, proses ujian tulis dan ujian skripsi mulai tahun ajaran 1995/1996 Prodi Pendidikan Matematika sudah berhak melakukannya secara mandiri. Mulai tahun ini Prodi Pendidikan Matematika memiliki hegemoni dan semangat baru untuk menata berbagai macam kegiatan baik akademik, administrasi, pengelolaan infrastruktur, ataupun kemahasiswaan dengan otonomi penuh. Kepemimpinan Prodi mulai tahun 1994 di bawah tampuk kepemimpinan Drs. Ramlan dan Dra. Hj. Wisma Eliyarti, M.Pd. Di bawah kepemimpinan berdua tersebutlah pengembangan Prodi Pendidikan Matematika dilanjutkan untuk menuju ke arah yang lebih otonomi dan disegani di masyarakat. 

Kegiatan pengembangan kurikulum yang semula menginduk ke UPI, mulai tahun 1995 Prodi pendidikan Matematika memiliki kurikulum sendiri yang mengacu kepada kurkulum inti nasional dan lokal. Kurikulum nasional minimum 60% harus sama dengan yang digariskan secara nasional, sisanya dikembangkan oleh Prodi Pendidikan Matematika sebagai instritusi, di bawah pembinaan FKIP dan Unpas. Kurikulum ini juga masih mempertahankan mata-mata kuliah yang sebelumnya menjadi ujian negara. Di samping itu, terdapat kurikulum lokal Unpas yang wajib diikuti misalnya Islam Disiplin Ilmu dan Budaya Sunda yang semakin dikentalkan.

Sebagai akibat dari otonomi Program Studi, maka keberhasilan meluluskan mahasiswa dengan cepat sesuai dengan target waktu yang ditentukan yaitu 4 tahun semakin dapat diraih. Hal ini disebabkan oleh pelaksanaan ujian yang hanya sekali. Adapun mahasiswa yang agak lambat lulusnya, pada umumnya diakibatkan oleh keterlambatan dalam menulis skripsinya. Akibat dari kebijakan ujian ini, banyak mahasiswa yang dulunya enggan untuk melanjutkan studi, karena susah untuk lulus, karena dua kali ujian, mulai pada tahun 1995 ini banyak yang antusias untuk mengikuti ujian, yang sudah tidak lagi membedakan antara ujian lokal atau ujian negara.

Dampak diperolehnya status disamakan merupakan keuntungan positif bagi Prodi pendidikan Matematika FKIP Unpas yang semakin dipercaya oleh masyarakat. Walaupun harus diakui bahwa Prodi Pendidikan Matematika UPI yang merupakan Prodi pembina merasa ‘kehilangan lahannya’. Sejarah mencatat juga bahwa karena Prodi Pendidikan Matematika FKIP Unpas masih kesulitan memperbanyak dosen tetapnya, maka dosen luar biasa yang membantu sebagai tenaga pengajar dari UPI masih tetap dipertahankan, sekaligus juga menjawab masalah ‘kehilangan lahan’ tersebut. Namun, dengan masih banyaknya dosen luar biasa yang masih bertahan di Prodi ini, berdampak kurang baik terhadap penambahan dosen tetap Prodi Pendidikan Matematika. Karena sampai tahun 1996 tidak menambah dosen baru sebagai dosen tetap. Selain karena ‘kebaikan’ FKIP Unpas untuk tetap mempertahankan dosen luar biasa. Padahal, jika ingin, bisa saja dosen luar biasa tidak digunakan lagi, karena sudah otonomi penuh.

Pada tahun 1996 karena kebutuhan untuk akreditasi, maka direkrut Darta, S.Pd., sebagai calon dosen baru yang merupakan alumni Prodi Pendidikan Matematika yang kedua, setelah Drs. Ramlan yang diangkat sebagai dosen di almamaternya. Berbarengan dengan Darta, S.Pd., datanglah dosen pindahan dari STKIP Siliwangi yaitu Dra. Poppy Yaniawati (sekarang Prof. Dr. Hj. Poppya Yaniawati, M.Pd). Pada masa itu, belum banyak dosen yang berkualifikasi S2, karena belum disyaratkan sebagai dosen berpendidikan minimum S2, masih banyak yang S1. Walaupun memang agak menggelikan seorang dosen mengajar S1 masih berpendidikan S1 juga. Maka mulai tahun 1997 dan 1998 beramai-ramailah dosen Pendidikan Matematika untuk mengikuti jenjang S2, institusi yang dituju lebih banyak ke UPI. Termasuk di dalamnya Drs. Ramlan, Dra. Wisma Eliyarti dan Dra. Poppy Yaniawati untuk mengikuti jenjang S2 di UPI. Tak ketinggalan pula Darta, S.Pd pada tahun 2001 mengikuti pendidikan S2. Tahun 2001 Poppy Yaniawati lulus S2, sedangkan Darta baru lulus pada tahun 2004. Drs. Ramlan yang semula mengikuti Pendidikan Matematika di UPI, beralih ke ITB dan malah menyelesaikan S2-nya dalam bidang Seni di ITB.

Bila pada tahun-tahun 1994 dan sebelumnya jumlah mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika masih di bawah 30an tiap angkatannya, namun untuk tahun 1995, 1996, 1997, 1998, dan tahun 1999 mahasiswa mulai banyak berdatangan, sehingga animo terhadap Prodi ini semakin meningkat. Fenomena in dipicu oleh banyaknya pengangkatan tenaga kependidikan untuk mata pelajaran matematika di SMP dan SMA mulai tahun 1995. Tahun 1999, dan 2000 mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika mengalami peningkatan yang berarti, yaitu dua kali lipat dibandingkan dengan sebelumnya, sehingga mahasiswa ditampung dalam dua sampai tiga kelas yang berbeda. Kepercayaan ini juga disinyalir dampak dari akreditasi Program Studi dengan peringkat B, yang diperoleh tahun 1999. Tahun 2001 mengalami penurunan kembali, tetapi sebetulnya tidak terlalu berarti, karena walaupun dibuat dalam satu kelas, tetapi satu kelas yang gemuk sehingga ketika pelaksanaan pemebeajaran agak menyulitkan karena kelas menjadi penuh. Mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2003 jumlah mahasiswa tetap stabil dua kelas. Sehingga Prodi pendidikan Matematika dapat mempertahankan banyaknya raihan mahasiswa yang tetap 2 kelas, dengan satu kelasnya minimal 55 orang. Jika dibandingkan dengan pembagian kelas ideal untuk prodi eksak mestinya satu kelas maksimal 40 orang, namun karena keterbatasan ruangan, maka satu kelas terpaksa maksimal 55 orang.

Kegiatan dosen dalam penelitian dan pengabdian masyarakat untuk periode ini cukup menggembirakan. Ada yang memperoleh hibah dari Dikti, Unpas dan lembaga lainnya. Sehingga dapat meningkatkan kinerja dan meningkatkan jabatan fungsional dosen tetap. Semua dosen tetap meningkat raihan jabatan fungsionalnya.

Sampai dengan tahun 2002, usulan untuk penambahan dosen tetap terus dilakukan. Karena disadari bahwa salah satu kelemahan di Prodi Pendidikan Matematika adalah masih minimnya tenaga pengajar tetap. Maka pada tahun 2002 direkrutlah calon dosen tetap dengan status dosen magang Bapak Beni Yusepa Ginanjar Putra, S.Pd., M.Pd., yang merupakan alumni ketiga yang direkrut sebagai dosen di Prodi pendidikan Matematika.

Terkait kepemimpinan, pada tahun 2002 terdapat tantangan baru dalam era kepemimpinan Bapak Drs. Ramlan, M.Sn., karena beliau selain sebagai pimpinan Prodi Pendidikan Matematika juga sebagai ketua Prodi Seni di Fakultas Seni dan Sastra Unpas, bahkan diproyeksikan sebagai Dekan Fakultas tersebut. Pada awalnya, Prodi Seni dan Sastra Inggris merupakan prodi baru di Unpas yang dibidani oleh FKIP Unpas pada masa kepemimpinan Dekan FKIP Bapak Drs. H. Atim Suparman, M.Pd, yang diandalkan sebagai pengganti FKIP manakala FKIP mengalami kejenuhan dan kelesuan peminat mahasiswa. Penurunan minat mahasiswa disinyalir karena ada isyu bahwa Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan akan dibubarkan. Sehingga pada akhir tahun 2002 Bapak Ramlan mengundurkan diri dari jabatan Ketua Prodi pendidikan Matematika untuk Fokus di Fakutas Seni dan Sastra. Sehingga pada tahun 2002 diangkatlah Dra. Hj. Wisma Eliyarti sebagai Pejabat sementara Ketua Prodi dan Darta, S.Pd., sebagai pejabat sementara Sekretaris Prodi Pendidikan Matematika, sampai menunggu pemilihan Ketua dan Sekretaris baru secara definitif pada tahun 2003.

Di sisi lain kepengurusan lembaga kemahasiswaan Himatika Prodi Pendidikan Matematika untuk dekade ini adalah Maman Markum (1994-1995), Dadang (1995-1996), Beni Yusepa (1996-1997), Jajat Sudrajat (1997-1998), Adi Suwarna (1998-1999), Abdurohim (1999-2000), Firman Dani (2000-2001), dan Lina Roufah (2001-2002). Kegiatan Himatika tetap dinamis, tetapi yang menjadi kegiatan yang paling besar adalah kegiatan andalan berupa LN3M.

4. Masa Dekade Ketiga (2003-2014)

Dekade ini ditandai dengan kepemimpinan Ketua dan Sekretaris yang baru, yaitu Ketua Prodi Dra. Hj. Wisma Eliyarti, M.Pd. dan Sekretaris Prodi Darta, M.Pd. (dua periode, yaitu 2003-2007 dan 2007-2012). Keduanya membawa gagasan baru yaitu untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada sivitas akademika Prodi Pendidikan Matematika, dengan penguatan pada kurikulum matematika. Dra. Hj. Wisma Eliyarti, M.Pd. sebagai dosen tetap Prodi Pendidikan Matematika pertama yang telah memahami seluk beluk Prodi dan Darta, M.Pd. sebagai alumni yang dibesarkan di masa transisi dari mulai Prodi berstatus diakui, disamakan, dan terakreditasi B. Keduanya memiliki itikad yang baik untuk memajukan Prodi Pendidikan Matematika ke depan. Pada era kepemimpinan keduanya, yang radikal dilakukan adalah dengan menawarkan kepada mahasiswa calon pembimbing skripsinya, yang merupakan wujud pelayanan dan akuntabilitas yang diberikan kepada mahsiswa. Kebijakan ini disambut baik oleh mahasiswa, yang di era sebelumnya penentuan pembimbing skripsi mahasiswa dilakukan secara top down.

Terkait kepemimpinan Prodi pendidikan Matematika, pada tahun 2012 terjadi kembali regenerasi kepemimpinan, kali ini kepemimpinan Prodi Pendidikan Matematika merupakan murni alumni dari Prodi Pendidikan Matematika dari generasi yang dihasilkan dari dekade pertama. Kedua orang itu adalah Darta, M.Pd., yang tadinya sebagai sekretaris Prodi periode sebelumnya, dan H. Beni Yusepa GP, M.Pd, yang sebelumnya sebagai dosen tetap. Keduanya merupakan generasi tahun 90an. Era kepemimpinan ini yang baru berjalan 2 tahun masih melanjutkan tradisi baik yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Di mata keduanya adalah mempertahankan kebijakan yang sudah baik dan mencari inovasi demi perbaikan ke depan, merupakan suatu hal yang mutlak perlu dilakukan.

Dekade ini ditandai pula dengan perubahan kurikulum untuk menjawab tantangan ke depan dengan menata ulang struktur kurikulum, silabus dan satuan acara perkuliahannya, sesuai dengan tantangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang berdasarkan kepada SK Mendikbud nomor 057/2002. Pembaharuan kurikulum diawali dari rapat kerja yang diselenggarakan di Hotel Lembang Asri tahun 2003, dengan terlebih dahulu menghadirkan pakar pendidikan matematika, yaitu Prof. Dr.H. Wahyudin, M.Pd. Pendahuluan rapat kerja membahas kekuarangan-kekurangan pada kurikulum sebelumnya, dan mengedepankan perbaikan yang harus ditekankan pada penguasaan konsep matematika sekolah, karena alumni nantinya akan mengajar di sekolah menengah. Akibat dari pembaharuan kurikulum tersebut, banyak mata kuliah yang kurang relevan seperti Biologi dan Kimia dihilangkan. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih mendalami konsep dasar matematika secara mantap, dibandingkan dengan memberikan ilmu yang kurang relevan dengan matematika. Penguatan yang ditonjolkan tampak pada penambahan Matematika Sekolah sehingga menjadi 12 sks, selain pengurangan mata kuliah yang dianggap sulit dan kurang berguna. Selain itu, penguatan pada metodologi pembelajaran dan psikologi pembelajaran matematika diberikan di kurikulum baru ini. Pembaharuan pada Kurikulum Prodi Pendidikan Matematika ini, ternyata menjadi kecenderungan di beberapa Perguruan Tinggi dengan jurusan sejenis, karena banyak pula yang meniru Kurikulum Prodi Pendidikan Matematika tahun 2003.

Setelah pembaharuan kurikulum tahun 2003, pimpinan Prodi mengajukan usulan untuk merekrut dosen senior yang sudah pensiun dari ITB dengan latar belakang pendidikan yang mumpuni, yaitu Bana G Kartasasmita, Ph.D., yang bertujuan untuk memperkuat prodi juga untuk memenuhi tuntutan akreditasi yang harus dilakukan, karena telah melewati masa kadaluarsa.   Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan maka diperoleh status Terakreditasi BAN PT dengan peringkat ‘B’ dengan SK No. 39/BAN-PT/AK-VIII/S1/XI/2003, dan Surat Izin Penyelenggaraan PS dari Dikti No. 1750/D/T/2005 tanggal 20 Mei 2005.

Memenuhi komitmen pimpinan Prodi periode ini yang ingin melayani sivitas akademika dan penguatan pada Program Studi, maka pada tahun 2004 mengajukan Hibah IMHERE bersama Prodi Biologi di FKIP Unpas. Tetapi karena kurang pengalaman dan belum tahu seluk beluk hibah tersebut, maka usulannya kandas. Selanjutnya tahun 2005 mencoba mengajukan Program Hibah Kompetisi A2 ke Dikti dengan modal pengetahuan seadanya berdasarkan tafsiran yang tertulis di dokumen panduan penulisan proposal. Namun untuk kedua kalinya juga mengalami kegagalan.

Pada tahun 2006 mengajukan kembali Proposal PHK A2 ke Dikti, dengan sebelumnya meminta bantuan dari reviewer dari UGM, dan ternyata mendapat respon yang baik dari Dikti. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unpas bisa mengalahkan ratusan peserta yang mengajukan proposal ke Dikti. Proposal yang didanai untuk skema tiga tahun yaitu tahun 2007, 2008, dan 2009, dengan masing-masing tahun didanai sebesar Rp 500 juta. Berkat hibah ini Prodi Pendidikan Matematika bisa melengkapi peralatan yang ada di Laboratorium Matematika sebagai laboratorium yang memenuhi Standar Minimal Laboratorium (SML), bahkan melebihinya. Kelengkapan lainnya adalah software dan koleksi pustaka. Selama tiga tahun itu, Program Studi Pendidikan Matematika menjadi sorotan Fakultas bahkan Universitas, karena telah mempelopori Unpas dalam upaya membiasakan diri untuk meritokrasi dan mau bersaing dengan Prodi lain di seluruh Indonesia.

Manfaat lain dari program PHK A2 ini adalah dapat memfasilitasi mahasiswa dan dosen dalam rangka kegatan ilmiah seperti penelitian, seminar, dan lokakarya yang banyak menambah wawasan dosen dan mahasiswa. Bahkan bukan hanya untuk dosen atau mahasiswa Prodi Matematika, tetapi untuk lingkungan FKIP sendiri. Selain itu, dengan berbekal pengalaman terbaik (best practice) Prodi pendidikan Matematika, di lingkungan FKIP sendiri pada tahun 2007 telah memenangi Program Hibah Kompetisi untuk Micro teaching sebesar Rp 450 juta. Selanjutnya pada tahun 2010 telah berimbas pada Prodi PGSD dan Pendidikan Ekonomi Akuntansi untuk pemenangan Hibah DIA BERMUTU dalam rangka meningkatkan akreditasi dari B ke A untuk Pendidikan Ekonomi Akuntansi dan dari belum terakreditasi untuk PGSD ke terakreditasi, walaupun terakreditasi C. Di tingkat Universitas telah dimenagkan pula Program Hibah Kompetisi Institusi, yang diprakarsai oleh Dr. Cartono sebagai orang FKIP yang membawa dampak yang baik dari hibah-hibah yang dimenangkan di FKIP.

Tahun 2009 merupakan tahun yang sangat sibuk bagi Prodi Pendidikan Matematika, karena pada tahun ini merupakan tahun terakhir pelaksanaan PHK A2 juga tahun terakhir untuk masa akreditasi ulang. Namun pimpinan Prodi dan sivitas akademikanya, berhasil menyelesaikan semuanya. Justru berkat bantuan PHK A2, kegiatan-kegiatan penelitian dan penambahan wawasan ilmiah lainnya sangat menunjang untuk pengadministrasian dan pemenuhan bukti fisik akreditasi. Namun, walaupun telah bekerja dengan sekuat tenaga untuk menghadapi akreditasi, ternyata peringkat akreditasi masih tetap mendapat peringkat B, dengan SK No. 002/BAN-PT/Ak-XII/S1/IV/2009.

Rasio dosen dan mahasiswa yang jelek memang sudah disadari dari awal, karena pemenuhan rasio dosen tetap dengan mahasiswa masih jauh dari ideal. Selain itu rasio antara dosen dengan ruangan yang merupakan kelemahan mendasar, masih belum dipenuhi. Dari sisi akademik semuanya telah memenuhi, tetapi ketika berkaitan dengan rasio dosen, sangat jauh. Rasio dosen dengan mahasiswa ini juga yang membuat izin penyelenggaraan Prodi masih agak ketar ketir pada tahun 2009. Namun, dengan bantuan dan kesigapan pihak administrasi di FKIP dan Universitas, akhirnya semua bisa diatasi sehingga izin penyelenggaraan Prodi bisa diperpanjang.

Peringkat akreditasi B ternyata membawa dampak yang menentukan untuk mendapatkan jatah penunjukkan sebagai penyelenggara sertifikasi guru yang digulirkan pemerintah sejak tahun 2007. Mulai tahun 2007–2008 Prodi Pendidikan Matematika telah menjadi mitra jurusan Pendidikan Matematika UPI dalam penyelenggaraan sertifikasi guru. Bersama-sama dengan Prodi lain di FKIP Unpas, Prodi Pendidikan Matematika telah menjadi mitra UPI dalam penyelenggaraan sertifikasi guru. Berkat program ini, dosen Prodi Pendidikan Matematika, yaitu Darta, M.Pd., Dra. Hj. Wisma Eliyarti, M.Pd., Dr. Hj. Poppy Yaniawati, M.Pd., dan Beni Yusepa GP, M.Pd., telah menjadi asesor di UPI.

Pada tahun 2009 pula Prodi Pendidikan Matematika mengajukan proposal Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) berbarengan dengan 6 Prodi lainnya di FKIP Unpas. Dari 6 Prodi hanya tiga prodi yang sampai divisitasi, yaitu Prodi Pendidikan Matematika, Prodi Pendidikan Akuntansi, dan Prodi PGSD. Namun untuk penentuan Prodi yang berhak menyelenggarakan PPG hanya PGSD yang sampai lolos. Prodi Pendidikan Matematika dan prodi Pendidikan Ekonomi Akuntansi tidak lolos. Ketidaklolosan tersebut untuk Prodi Pendidikan Matematika, lagi-lagi diakibatkan oleh kekurangan dosen yang bergelar Doktor dan kekurangan dosen dengan jabatan fungsional Lektor Kepala, serta belum memiliki sekolah laboratorium, kata informasi dari tim asesor PPG. Sampai tulisan ini diketengahkan Prodi Pendidikan Matematika sedang menanti Keputusan SK dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) PT tentang status peringkat akreditasi Prodi Pendidikan Matematika. Jika minimal peringkat B, menurut Undang-Undang berhak mengajukan kembali proposal PPG.

Pada tahun 2009, berkat kegigihan Dekan FKIP Unpas pada saat itu, yaitu Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd., maka FKIP Unpas yang termasuk Pendidikan Matematika di dalamnya sejak tahun 2009 ditunjuk pemerintah dalam hal ini Mendikbud sebagai penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan secara mandiri, tidak lagi dianggap sebagai mitra UPI. Mulai tahun ini dosen Prodi Pendidikan Matematika sangat sibuk untuk menyelenggarakan penilaian fort folio guru sampai melaksanakan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Program ini berlangsung terus menerus sampai tahun 2014. Sehingga pengalaman Prodi Pendidikan Matematika dan FKIP Unpas sebagai lembaga penyelenggara sertifikasi guru sudah berumur 5 tahun. Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) tahun 2005, program ini harus selesai sampai sepuluh tahun sejak diundangkannya. Walaupun masih banyak guru yang belum tersertifikasi sampai tahun 2015, namun sampai saat ini belum tahu mau dengan cara apa mensertifikasi guru, karena PLPG harus selesai tahun 2014. Ini merupakan tantangan bagi Prodi Pendidikan Matematika, karena belum mendapat mandat dari pemerintah sebagai penyelenggara PPG. Legalitas Prodi Pendidikan Matematika tahun 2014 sebelum diterimanya SK akreditasi adalah dengan menggunakan Surat Izin Penyelenggaraan PS dari Dikti   Nomor 14301/D/T/K-IV/2013 tanggal 28 Januari 2013.

Dari sisi Kurikulum Prodi Pendidikan Matematika setiap tahun selalu diperbaharui, paling tidak dari sisi struktur materi perkuliahannya, agar selalu mutakhir dan relevan dengan kebutuhan di masyarakat. Apalagi sekarang di tingkat persekolahan telah diujicobakan Kurikulum 2013, yang kental dengan pendekatan saintifiknya. Kegiatan peninjauan kurikulum tersebut diselenggarakan dalam kegiatan Rapat Kerja (Raker) tingkat Fakultas yang terlebih dahulu diselenggarakan Raker tingkat Prodi. Sejak kepemimpinan Dekan Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd. sampai dua periode dan diteruskan oleh kepemimpinan Dekan Drs. H. Dadang Mulyana, M.Si., kegiatan Raker selalu dilaksanakan pada awal tahun.

Saat ini Prodi Pendidikan Matematika beralamat di Jl. Tamansari nomor 6 Tlp (022) 4205317 dengan Jl. Tamasari No. 6 Tlp (022) 4205317, Fax (022)    4263982,  http://www.fkip.unpas.ac.id, e-mail: pmatematika.fkip@unpas.ac.id. Kedudukan alamat ini merupakan lokasi yang sangat strategis dibandingkan dengan lembaga LPTK swasta lainnya yang ada di Bandung. Lokasi yang strategis ini ke depan bahkan akan lebih megah lagi dengan akan dibangunnya gedung baru di sebelah gedung yang sekarang. Sehingga infrastruktur kampus menjadi semakin leluasa dan lengkap.

Dari sisi mahasiswa, sejak diberlakukannya UUGD tahun 2005, keadaan mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika relatif stabil. Angkatan 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2010, 2011, 2012, 2013, dan 2014 masing-masing sebanyak 2 kelas. Sedangkan untuk tahun 2008 dan 2009 sebanyak 3 kelas. Sehingga untuk dekade ini, bila ditinjau dari sisi animo calon mahasiswa ke Prodi Pendidikan Matematika tergolong cukup tinggi. Hal ini dimungkinkan seiring dengan perbaikan infrastruktur, status akreditasi yang stabil, dan kebijakan pemerintah yang menguntungkan prospek calon guru ke depan dengan diberlakukannya UUGD, yaitu dengan salah satu program sertifikasi guru, yang menjanjikan kesejahteraan yang lebih tinggi dari pegawai lainnya.

Dampak dari semakin berkembangnya animo masyarakat terhadap Pendidikan Matematika dan untuk mengembangkan keilmuan Pendidikan Matematika yang lebih maju lagi, maka pada tahun 2010 telah dibuka program S2 untuk Magister Pendidikan Matematika, yang dikomandoi oleh Bana G Kartasasmita, Ph.D., dan Dr. Hj. Poppy Yaniawati, M.Pd. Hingga kini Program S2 tersebut telah mengalahkan saudara tuanya dalam hal jumlah mahasiswa, yaitu selalu menerima 3 kelas setiap angkatannya. Suatu hal yang menggembirakan bagi Prodi Pendidikan Matematika S1 dan FKIP Unpas yang membidaninya. Berkat Program Magister pula, kini Dr. Hj. Poppy Yaniawati, M.Pd., telah menyandang jabatan fungsional tertinggi dalam dunia akademik yaitu Guru Besar (berhak mencantumkan gelar Profesor di depan namanya).

Penambahan dosen Prodi Pendidikan Matematika terjadi pada tahun 2012, yaitu dengan masukya Vevi Hermawan SR, M.Pd., sebagai dosen tetap baru. Selanjutnya pada tahun 2014 telah diangkat kembali sebagai dosen magang, yang diambil dari orang-orang terbaik di masanya yaitu: Dahlia Fisher, S.T., S.Pd., M.Pd., dan Jusep Saputra, S.Pd. (yang saat ini, 2014 masih sedang menempuh kuliah di S2 Unpas).

Di sisi kepengurusan lembaga Kemahasiswaan Himatika Prodi Pendidikan Matematika untuk dekade ini adalah Asep Syaeful Bachri (2002-2003), Yandi Wahyu Hidayat (2003-2004), Purwo Agus Susilo (2004-2005), Dian Hardiansyah (2005-2006), A Syaikhonimansyah (2006-2007), Arif M Iqbal (2007-2008), Nensi Rohmayasari (2008-2009), Abdul Rosyid (2009-2010), Irpan Nurdin Sukmawan (2010-2011), Adi Purwanto (2011-2012), Dian Puspita Saraswati (2012-2013), Sumatri (2013-2014), Alexius Rianto (2014-2015), dan Barnu Ali (2015-2016). Kegiatan Himatika semakin ke sini semakin bervariasi, tetapi yang menjadi kegiatan yang paling besar adalah kegiatan andalan berupa LN3M. Pada dekade ini prestasi lembaga kemahasiswaan tergolong aktif, karena sering mendapatkan kejuaraan baik lokal, regional ataupun nasional terutama dalam kegiatan olahraga. Akhir-akhir ini mahasiswa sudah banyak yang meminati kegiatan-kegiatan ilmiah. Sejak tahun 2010 kegiatan kunjungan ke P4TK Matematika Yogyakarta, yang menjadi pusat lembaga pemberdayaam guru sudah menjadi rutin yang favorit  bagi mahasiswa untuk keluar kampus.

Beberapa hal yang sampai saat ini harus selalu ditingkatkan adalah penambahan jumlah dosen, kegiatan ilmiah dosen dan mahasiswa, dan pemenuhan infrastruktur yang menunjang terciptanya iklim akademik yang kondusif. Secara finansial FKIP Unpas pada umumnya dibandingkan dengan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu sudah jauh lebih memadai. Oleh karena itu dengan semangat gotong royong, kebersamaan, pantang menyerah, selalu ingin menjadi yang terbaik, dan lain-lain demi menunjang terciptanya keadaan yang lebih baik harus tetap dijaga, bahkan ditingkatkan.

Pada tahun 2014 Prodi Pendidikan Matematika harus segera mengajukan akreditasi Program Studi, karena akreditasi Prodi berakhir pada bulan Nopember 2013. Mulai akhir tahun 2013 seluruh civitas akademika Prodi mempersiapkan Borang akreditasi hingga bulan Juli 2014. Baru pada bulan Agustus tahun 2014, sertifikat akreditasi Prodi didapat. Kali ini Prodi Pendidikan Matematika setelah mengirimkan dokumen akreditasi ke Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi, mendapat kabar yang sangat menggembirakan karena tidak harus melalui visitasi ke lapangan. Hal ini dikarenakan nilai yang diperoleh melalui hasil desk evaluation, masih berada pada posisi peringkat B. Karena menurut keterangan orang BAN yang dapat dipercaya bahwa penambahan nilai setelah desk evaluation ke visitasi, jika bertambah tidak lebih dari 20 dan jika berkurang tidak juga kurang dari 20. Bahkan jika melebihi 20, maka disinyalir ada ‘apa-apa’ pada saat visitasi. Sehingga akhirnya keputusan tidak dilakukan visitasilah untuk akreditasi prodi pada tahun 2014. Sertifikat akreditasi Prodi diberikan pada bulan Agustus 2014 dengan surat keputusan Ketua BAN PT nomor: 239/BAN-PT/Akred/S/VIII/2014 dengan peringkat akreditasi B.

Seiring dengan kebutuhan rasio dosen dan mahasiswa yang disyaratkan oleh pemerintah melalui surat peringatannya yang harus dipenuhi paling lambat tanggal 30 Nopember 2015, yaitu rasio dosen dan mahasiswa untuk eksakta 1:30 dan sosial 1:45, maka Prodi Pendidikan Matematika merekrut dosen baru sebanyak 3 orang yaitu: Thesa Kandaga, Taufik Rahman, dan Nismaya. Sehingga sampai saat ini dosen Prodi Pendidikan Matematika yang terdaftar di PD Dikti adalah 13 orang dengan rasio 1 : 24,4.

Waktu selalu berjalan dengan tidak bisa dihentikan oleh siapapun. Begitupula dengan habisnya masa jabatan pimpinan prodi yang jatuh pada bulan 27 Januari 2016. Jabatan pimpinan prodi yang dijabat oleh Darta, M.Pd., dan H. Beni Yusepa GP, M.Pd. harus segera berakhir. Namum walaupun harus berakhir masa jabatan, masih memiliki kesempatan sekali lagi untuk mencalonkan diri sebagai pimpinan prodi. Maka pada tanggal 2 Februari 2016 dilantik pimpinan yang baru untuk masa bakti jabatan tahun 2016-2020. Masa jabatan ini adalah masa jabatan yang penuh tantangan, karena di tengah animo calon mahasiswa yang menurun seiring dengan masa kejayaan LPTK yang semakin menurun pula, harus segera dipulihkan kembali.

Pemulihan kembali animo tersebut salah satu jawabannya adalah dengan mengajukan proposal Pendidikan Profesi Guru (PPG). Proposal tersebut disampaikan ke Direktorat Belmawa pada tanggal 19 Februari 2016. Program selanjutnya adalah peningkatan kualifikasi akademik dan fungsional dosen. Peningkatan kualifikasi ini dilakukan dengan studi lanjut dan pengajuan kenaikan pangkat dosen.

Kelemahan yang masih mengganjal di prodi Pendidikan Matematika periode ini adalah masih kurangnya kerjasama dan publikasi Internasional dosen prodi. Hal ini perlu ditingkatkan melalui kegiatan kerjasama yang menghasilkan penelitian internasional ataupun mengirimkan proposal hibah penelitian yang memungkinkan publikasi jurnal ilmiah internasional.

Di lain pihak, untuk kegiatan kemahasiswaan yang banyak dilakukan oleh himatika, yang mesti didorong lebih banyak lagi adalah kegiatan yang berkaitan dengan penalaran dan akademik seperti lomba karya tulis ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, pembimbingan dan dorongan ke arah kedua hal tersebut mesti diintendifkan baik oleh pimpinan fakultas ataupun oleh pimpinan prodi.

Seiring dengan perkembangan kurikulum yang kecenderungannya berorientasi global, maka Prodi Pendidikan Matematika selalu memperbaharuinya. Kurikulum yang sekarang berlaku adalah Kurikulum yang Berorientasi kepada Kerangka Kualifikasi Nasional indonesia (KKNI). Kurikulum tersebut dimutakhirkan selain memenuhi standar nasional juga dalam rangka memenuhi visi dan misi Prodi.